Selasa, 16 April 2013

PERTANIAN MERICA



KEARIFAN LOKAL
“PERTANIAN MERICA”
DISUSUN OLEH
NAMA :

1.    Asrul Wijaya Saragih            110905002
2.    Muhammad Rifai                  110905005
3.    Richa Meliza                          110905006
4.    Jayanti PN Sihombing          110905018
5.    Denny Pratama Putra            110905019
6.    Sri Mauliani                           110905033


DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013


Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah rempah-rempah berwujud bijian yang dihasilkan oleh tumbuhan dengan nama sama. Lada sangat penting dalam komponen masakan dunia dan dikenal luas sebagai komoditi perdagangan penting di Dunia Lama. Pada masa lampau harganya sangat tinggi sehingga menjadi salah satu pemicu penjelajahan orang Eropa ke Asia Timur untuk menguasai perdagangannya dan, dengan demikian, mengawali sejarah kolonisasi Afrika, Asia, dan Amerika.
Alasan kami memilih tanaman merica sebagai objek penelitian kami adalah karena merica merupakan salah satu tanaman rempah-rempah khas Indonesia yang bahkan dicari-cari oleh bangsa lain.
Informan kami adalah seorang petani merica di kota Tebing Tinggi yang bernama Bapak Ismail Sinaga yang sudah berkecimpung di dunia pertanian selama lebih kurang 30 tahun. Beliau memiliki lahan pertanian seluas 3000m2 dengan jumlah tanaman merica sebanyak 1500 batang.
Beliau menjelaskan tahap-tahap dalam bercocok tanam merica. Merica merupakan salah satu tanaman yang tidak sulit dalam proses pembibitan, penanaman, perawatan sampai proses pemanenan.
1.      Pembibitan
Bibit merica pertama sekali yang didapat bapak Ismail Sinaga sebelum terjun sebagai petani merica sekitar ± 30 tahun yang lalu yaitu dari salah satu rekan di daerah Tebing Tinggi juga. Beliau mengatakan bahwa bibit merica yang beliau dapatkan adalah bibit merica Bangka yang mana bibit tersebut salah satu bibit merica ungggul yang ada di Indonesia. Kemudian bibit yang diperoleh dikembangkan melalui beberapa metode penanaman. Metode penanaman yang dimaksud oleh beliau adalah penanaman menggunakan metode bibit (biji merica) dan metode stek (batang merica).
Semua penanaman merica yang dilakukan oleh informan kami menggunakan alat bantu seperti polybag, Polybag di gunakan agar semua bibit tanaman dan terjaga dengan baik tanpa ada tanaman yang mengganggu. Sebagai petani yang memang sudah ahli di bidangnya, bapak Ismail Sinaga (atau Pak Uwo kami memanggilnya) juga di dampingi oleh anaknya dalam proses pembibitan. Polybag yang sudah di isi dengan tanah yang subur (biasanya menggunakan tanah hasil pembakaran sampah) langsung saja di semai dengan bibit berupa biji merica. Biji merica yang akan di jadikan bibit, sebelumnya telah melakukan proses penyeleksian. Karena bibit biji merica yang di gunakan haruslah dari biji yang unggul, biji merica yang unggul maksudnya di atas adalah bibit merica yang sudah bewarna merah atau menguning dan kulitnya kemudian di kupas dan langsung bisa di semai tanpa harus melakukan proses lainnya. Beliau hampir tidak pernah menggunakan metode ini walaupun metode ini sangat mudah untuk diterapkan, karena berdasarkan pengalamannya dahulu kalau menggunakan metode ini maka hasilnya tanaman mericanya kurang maksimal karena tenamannya tidak sebaik tanaman induknya (bijinya kurang maksimal atau kurang banyak).
Selain menggunakan metode tanaman biji, beliau juga menjelaskan tentang metode stek. Dimana masyarakat awam banyak yang belum mengetahui cara ini. Metode stek ini merupakan metode yang lebih rumit dari metode penanaman biji merica. Selain rumit, metode ini juga membutuhkan kesabaran dan waktu yang lama. Karena stek yang dilakukan beliau menggunakan cara 2/3, 2/3 maksudnya disini adalah dimana dua ruas batang dari tiga ruas di tanam dalam polybag sehingga cma satu ruas saja yang terlihat.  Tidak hanya sampai di situ saja, setelah batang tersebut di tanam dalam poliybag tanaman tersebut juga harus di tutup dengan plastik ± 2 bulan. Selama dua bulan tersebut, tanaman merica yang di gunakan bibit juga harus sering di cek. Pengecekan dilakukan untuk melihat kadar penguapan yang terjadi dalam plastic tersebut, beliau juga mengatakan kalau sebelum batang merica di tanam dengan metode stek , daun pada batang stek tersebut harus di potong separuhnya agar mengurangi penguapan dalam plastik. Setelah ± 2 bulan dan akarnya sudah tumbuh, maka bibit tanaman tersebut haru di pindahkan dalam lahan yang sudah di sediakan.
2.      Penanaman
Sebagai tanaman yang merambat tentunya merica membutuhkan penopang. Penopang yang digunakan dapat berupa batang bambu, tiang beton, maupun tanaman kayu yang batangnya lurus. Tetapi biasanya Bapak Ismail Sinaga tidak pernah menggunakan batang bambu karena umur batang bambu tidak selama umur merica. Selain batang bambu, tiang beton juga dapat digunakan akan tetapi tiang beton tentunya menggunakan biaya yang besar. Selain batang yang besar, tiang beton juga dapat membuat lahan pertanian menjadi sempit karena akan sulit untuk memindahkan tiang beton tersebut jika kita sudah tidak menanam merica lagi. Tetapi biasanya Pak Ismail Sinaga selaku informan menggunakan batang kayu air sebagai penopang atau penyangga tanaman merica agar dapat tumbuh, selain di gunakan sebagai penyanga dan penopang tanaman merica, pohon merica juga di gunakan sebagai batang peneduh. Karena menurut tanaman merica termasuk tanaman yang dapat hidup di daerah lembab dan tidak tahan terhadap panas matahari secara langsung, maka Pak Ismail Sinaga lebih suka menggunakan tanaman batang kayu air sebagai ponapang dan penyangga tanamana merica karena memiliki multi fungsi sebagai peneduh merica. Setelah penopang atau penyangga sudah ada, maka tanaman merica bisa langsung dapat di pindahkan di lahan pertanian dengan ukuran dan jarak tanam 2m × 2m tiap batang. Dengan ada jarak tanaman yang proporsional maka akan membuat tanaman merica dapat bertumbuh dengan subur dan lebih baik (tumbuh maksimal)

3.      Perawatan
Tanaman merica termasuk jenis tanaman yang tidak terlalu sulit untuk dirawat dan tidak memerlukan biaya yang besar dalam perawatannya. Tanaman ini juga tidak suka dengan udara yang panas, melainkan dia lebih menyukai udara yang lembab. Untuk perawatannya cukup diberi pupuk kandang yang diolah sendiri oleh bapak Ismail sebanyak satu kali dalam tiga bulan. Salah satu keunikan tanaman ini dia tidak boleh terlalu bersih dalam membersihkan lahannya, karena dia membutuhkan tanaman-tanaman rendah seperti rumput untuk bertahan hidup. Hal ini juga diketahui oleh bapak Ismail berdasarkan pengalamannya terdahulu yang mana dulu beliau pernah membersihkan lahan sekitar tanaman merica serta mecabuti rumput-rumputnya, hal ini mengakibatkan tumbuhnya tanaman menjadi kurang baik. Tanaman ini juga tidak terlalu suka terdapat banyak air, jadi tidak perlu disiram. Pernah dahulu terjadi banjir yang cukup tinggi menggenangi tanaman merica dan membuat seluruh tanaman tersebut mati. Karena tanaman merica merupakan tanaman yang tidak bisa terendam air lebih dari 15 menit, jika lebih dari 15 menit terendam air maka akan membuat tanaman itu mati.
4.      Masa Panen
Sejak awal ditanam tanaman merica membutuhkan waktu sekitar 24-26 bulan sampai dapat dipanen untuk pertama kali. Setelah itu periodisasi pemanenan dapat dilakukan setiap hari karena merica merupakan tanaman yang terus bertumbuh. Dengan tanaman sebanyak 1500 batang, bapak Ismail dapat memperoleh sekitar 3 kg merica perhari. Biasanya waktu pemanenan yang dilakukan Bapak Ismail sekitar pukul 9 pagi smpai pukul 12 siang. Alat yang digunakan beliau hanya sebuah ember sebagai tempat membawa merica yang telah dipanen.
5.      Pengolahan Hasil Panen
Merica yang banyak kita lihat dijual di pasar-pasar biasanya ada 2 jenis, ada merica yang berwarna hitam dan ada merica yang berwarna putih. Ternyata berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan, kedua jenis merica tersebut berasal dari jenis merica yang sama, hanya proses pengolahannya saja yang berbeda. Setelah merica dipanen, maka akan masuk ke dalam tahap proses pengolahan, yang memiliki 2 cara pengolahan. Cara pertama termasuk cara yang paling mudah, setelah merica dipanen maka merica tersebut akan langsung dijemur selama sekitar 3 hari sampai merica tersebut menjadi kering dan berubah warna menjadi hitam kemudian bisa langsung dikemas dan dipasarkan, inilah yang kemudian menjadi merica hitam. Merica hitam ini biasanya dijual dengan harga Rp. 35.000 per kilonya.
Cara pengolahan yang kedua agak sedikit rumit dan memakan waktu yang lebih lama daripada cara pertama. Setelah merica dipapen kemudian merica akan direndam sampai membusuk dan mengeluarkan aroma yang kurang sedap selama sekitar 10 hari. Tetapi kulit biji merica tidak begitu saja lepas dengan sendirinya, setelah direndam selama lima hari maka kita harus melihat kulit biji merica tersebut kemudian kia harus menggosok-gosokan dengan tangan sampai mengelupas dan itu di lakukan pada lima hari terakhir.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar